Rabu, 25 November 2009

Cermin Masa lalu

Cermin besar masa lalu

sumber : http://beranda.blogsome.com/2007/01/22/cermin-besar-masa-lalu/

Hari itu Umar bin Khattab menangis. Terbayang lekat di pelupuk matanya, kisah masa lalunya sebelum Islam. Sebuah rentetan episode jahiliyah yang pahit dan sulit terlupakan. Air matanya mengalir deras saat teringat anak perempuannya yang ia kubur hidup-hidup. Suara anak itu serasa masih memanggilnya, sayup-sayup, meminta belas kasihnya.

Peristiwa itu benar-benar menggoreskan pilu yang sulit dihapus. Sesaat sebelum terbenam di bawah tanah, anak itu masih bermain riang mengiringi ayahnya yang menggali tanah dengan susah payah. Bahkan, setiap kali debu dan pasir galian mengotori janggut sang ayah, anaknyalah yang dengan penuh kasih membersihkan debu-debu itu. Ia tak sedikitpun mengerti, bahwa gillian itu dibuat untuk dirinya. Segalanya berlalu begitu cepat, dan Umar pun mencatat peristiwa itu sebagai bagian dari sejarah hidupnya di masa jahiliyah.

Waktu terus bergulir. Enam tahun sesudah Rasulullah diangkat menjadi Rasul, benih keimanan tersemai di dalam hati Umar bin Khattab. Sejak itu ia menjadi salah satu pembela Islam yang paling tegas. Bahkan ia yang mengusulkan dimulainya era perjuangan secara terang-terangan. Bersama Hamzah dan Umar, kaum muslimin keluar ‘unjuk kekuatan’ di hadapan orang-orang Quraisy. Umar pun telah mengukir sejarah barunya. Bahkan di masa selanjutnya, ia menjadi sahabat agung, menjadi khalifah kedua, dan termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Ikrimah bin Abu Jahal juga punya masa lalu. Anak tokoh besar Quraisy, Abu Jahal itu tak kunjung mau masuk Islam. Bahkan hingga kota Makkah ditaklukkan Rasulullah, ia tetap kukuh dengan kekafirannya. Ketika Rasulullah memutuskan bahwa dia termasuk salah satu yang harus dibunuh, Ikrimah melarikan diri. Akhirnya istri Ikrimah yang meminta agar Rasulullah memaafkan. Setelah mendapat jaminan dari Rasulullah, Ikrimah kembali dari pelariannya lalu masuk Islam.

Saat menghadap Rasulullah itulah ia teringat apa yang telah ia lakukan pada masa lalunya. Karenanya, ia ingin sekali menebus kesalahannya. Di hadapan Rasulullah, Ikrimah menyampaikan keinginannya, “Demi Allah, kalau umurku masih panjang, semua nafkah yang dulu aku keluarkan untuk merintangi jalan Allah, akan aku lipatkan dari jumlah itu untuk berinfaq di jalan Allah." Di kemudian hari ia mengisi hari-harinya dengan ber-Islam secara baik. Ikrimah juga menjadi salah satu perawi hadits yang terkenal.

Seperti juga Umar, Ikrimah, dan para sahabat-sahabat Rasulullah yang lain, semua orang punya masa lalu, yang buruk maupun yang haik. Karena setiap langkah manusia adalah perilaku. Setiap kata yang terucap adalah perilaku. Segala tindakan yang dipilih adalah perilaku. Dan, segala yang telah kita lakukan akan tercatat dalam lembaran masa lalu kita. Setiap kita, setiap muslim tentu punya masa lalunya sendiri. Yang menyedihkan atau pun yang menggembirakan. Masa lalu yang mungkin saja orang lain tidak pernah tahu. Bahkan orang yang sangat dekat sekalipun. Masa lulu yang hanya dirinya sendiri dan Allah saja yang tahu.

Seluruh yang pernah terjadi hanya bisa dilupakan, tetapi tidak akan pernah bisa dihapuskan atau dianggap tidak ada. Sebab ia telah terukir dalam sejarah peristiwa. Sesuatu yang pernah ada tidak mungkin dianggap tidak ada. Tetapi bukan berarti masa lalu tidak punya manfaat. Justru keberadaannya menjadi sangat penting. Ia menjadi cermin bagi setiap orang, untuk menata langkah hidupnya yang tersisa.

Dalam Islam, penghargaan terhadap fungsi masa lalu terletak pada dua hal mendasar. Pertama, pada manfaatnya untuk tempat mengambil pelajaran. Artinya, manfaat masa lalu adalah untuk dijadikan tempat bercermin. Apa yang buruk dari masa lalu tidak boleh diulangi, sedang apa yang baik harus ditingkatkan. Pengalaman masa lalu adalah contoh kongkrit dan bukti nyata dari bermacam ikhtiar. Masa lalu telah mengajarkan secara detil bagaimana orang gagal itu gagal, bagaimana orang sukses itu sukses, bagaimana orang sengsara itu sengsara.

Kedua, selain fungsi pelajaran, masa lalu menurut pandangan Islam adalah kumpulan anak tangga sejarah yang harus disambung dengan anak tangga yang baru. Hidup ini akan bergulir, dunia akan menjadi hidup, bila setiap generasi mengambil peran di zamannya masing-masing. Sebab dengan itu ia telah menyambung masa lalu dengan sejarahnya hari ini. Sebab sejarah yang kita ukir hari ini akan menjadi masa lalu yang berharga bagi generasi sesudah kita. Begitu seterusnya.

Karenanya, jauh-jauh hari Rasulullah saw telah mengingatkan logika ini, ketika beliau bersabda, “Sesungguhnya sesudah kalian ada hari-hari yang menuntut kesabaran. Pada hari itu, orang-orang yang teguh seperti yang kalian lakukan akan mendapat pahala lima puluh kali lipat dari kalian.” Para sahabat ingin meyakinkan, “Maksudnya lima puluh kali lipat dari pahala sesama mereka sendiri wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Lima puluh kali lipat pahala kalian,” (HR. Tirmidzi). Hadits ini memberi landasan tentang anak tangga sejarah tersebut. Bahwa ketika hari kesabaran yang dimaksud itu tiba, hendaknya setiap muslim bersabar, berpegang teguh dengan jalan Allah, seperti para pendahulu mereka. Dengan kesabaran dan keteguhan itu, Allah menjanjikan pahala yang lebih banyak dari pada pendahulu mereka. Dan, itulah inti dari kesinambungan sejarah.

Masa lalu yang paling dekat untuk diambil pelajarannya, adalah masa lalu diri sendiri. Ini akan memiliki arti sangat penting. Pertama, bila yang dicermini dari masa lalu adalah keburukan, maka seorang muslim akan bisa merasakan betapa tidak enaknya keburukan dan betapa indahnya kebaikan. Betapa gelapnya kekufuran dan betapa bercahayanya keimanan. Umar bin Khattab pernah berkata, "Tidak ada yang mengerti nikmatnya Islam orang yang tidak mengerti rasanya jahiliyah. “ Maksudnya, kenikmatan Islam yang dirasakan orang yang pernah merasakan jahiliyah akan sangat mendalam. Tak berlebihan, bila Allah swt mengumpamakan masuk Islamnya Umar seperti orang yang hidup sesudah mati hatinya.

Ketika Umber masuk Islam, turunlah firman Allah yang artinya, "Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita, yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan o-rang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan." (Qs. Al-An’am: 122).

Setiap manusia, sebenarnya mengerti dan mengenali tabiat dirinya. Dengan mengaca dan bercemin pada lembaran masa lalu, seseorang bisa melihat arah perjalanan hidup yang sedang ditempuhnya. Ia bisa merasakan ke arah mana pergeseran perjalanan hidupnya. Ke arah yang lebih baik, ataukah ke arah yang lebih buruk?

Kedua, bercermin pada masa lalu akan menyadarkan bahwa akibat dari seluruh pilihan hidup ini akan kembali kepada masing-masing orang. Setiap kita akan kembali kepada Allah sendiri-sendiri. Allah swt berfirman, "Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah 1enyap dari pada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sekutu Allah).” (QS. Al-An’am: 6).

Segala pilihan hidup kita, akan kembali kepada diri kita sendiri. Allah swt menegaskan, "Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang, maka barangsiapa melihat (kebenaran itu) maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri. Dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu) maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemeliharamu." (Qs. Al-An’am: 104).

Orang yang mengerti bahwa dirinya tidak akan pernah diselamatkan oleh orang lain, tentu akan lebih peduli kepada dirinya sendiri. Kelak kita, siapapun kita, apapun marga kita, setinggi apapun derajat kita, seperti apapun profesi kita, akan memikul sendiri segala perilaku yang telah kita lakukan.

Ketiga, mengenang perjalanan yang telah lewat, akan memberi motivasi untuk menambah amal-amal dan memperbanyak tabungan kebaikan. Sejujurnya, setiap orang bisa meraba-raba, sejauh mana sebenarnya prestasi amal yang telah dibuatnya. Setiap kita bisa menghitung apa yang telah kita lakukan. Karenanya, Rasulullah mengabarkan, kelak, setiap orang yang mati dan hendak memasuki kuburan, bisa merasakan apa kira-kira yang akan dibalaskan untuk dirinya.

Bercermin kepada masa lalu, bekerja keras pada hari ini, dan menata hari esok, hanyalah salah satu cara untuk menyiasati hidup ini sebaik mungkin. Sebab, seperti telah dikabarkan Rasulullah, setiap kita hanya akan menjadi salah satu dari empat jenis orang. "Di antara manusia ada yang dilahirkan dalam keadaan beriman, lalu hidup sebagai seorang mukmin, dan mati sebagai orang mukmin. Ada yang dilahirkan dalam kekafiran, lalu hidup sebagai orang yang kaffir, lalu mati sebagai orang kaffir. Ada yang lahir dalam keadan beriman, hidup sebagi orang mukmin, dan mati sebagai orang yang kafir. Ada lagi yang lahir dalam kekafiran, hidup sebagai orang kaffir, dan mati dalam keadaan beriman.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Hakim).

Al-Baqillani mengutip sabda Rasulullah saw, "Sesungguhnya seorang mukmin itu berada di antara dua hal yang sangat menakutkan. Antara usia yang telah berlalu, ia tidak tahu apa yang diperbuat Allah terhadap usia yang telah lewat itu, dan antara usia yang tersisa, ia tidak tahu apa yang telah Allah tetapkan atas dirinya. Maka, hendaklah setiap jiwa mengambil untuk dirinya, dan dirinya sendiri. Dari dunianya untuk akhiratnya, dan dari masa mudanya untuk hari tuanya, dan dari hidupnya untuk sesudah kematiannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada sesudah kematian waktu untuk berusaha. Sesudah dunia tidak ada kehidupan kecuali surga atau neraka.”

Allahu’alam.

Tidak ada komentar: