Selasa, 13 Januari 2009

4 Golongan Orang Bertaubat

Bismillahirrahmanirrahim

Allah Azza wa jalla berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (QS At- Tahrim : 8)

Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Minhajul Qashidin hal : 250, membagi manusia dalam taubatnya itu kedalam 4 golongan :

1. Mereka yang Istiqamah dalam bertaubat. Hingga akhir hayatnya, dia tidak lagi mengulangi dosa-dosa yang pernah dilakukan, kecuali sedikit dosa yang kebanyakan manusia pun sulit menghindarinya. Maka masuklah mereka ke dalam barisan As-sabiq bil khairaat (yang pertama mendapatkan kebaikan) dan disebutlah mereka dengan An-nafsu Al-muthmainnah (jiwa yang tenang) sebagaimana disebutkan dalam QS Al Fajr : 27. Allah ridho kepada mereka. Subhanallah..

2. Mereka yang Istiqamah dalam melaksanakan ketaatan dan menjauhi dosa-dosa besar, hanya saja dia belum sepenuhnya terbebas dari dosa-dosa lain yang sulit di hindari. Hal itu karena jiwanya seringkali lalai dan terperosok ke dalam perangkap maksiat yang dating menghampirinya, lalu dia pun menyesali perbuatannyadan bertekad untuk menjauhi kemaksiatannya. Seperti ini adalah An-nafsu al-lawamah (jiwa yang tercela)

3. Mereka yang bertaubat dan bias istiqamah selama beberapa waktu, namun kemudian dia terjebak oleh syahwatnya sehingga melakukan beberapa perbuatan dosa besar. Meski demikian, dia masih tetap konsisten dengan ketaatan dan meninggalkan perbuatan dosa lainnya. Seperti ini adalah An-nafsu Al mas’ulah (jiwa yang dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak).

4. Mereka yang bertaubat dan mampu bertahan selama beberapa waktu dalam taubatnya, namun kemudian, dia terjerumus kembali ke dalam dosa tanpa ada keinginan untuk bertaubat dan tanpa ada rasa penyesalan dalam hatinya. Sehingga lama kelamaan dia semakin akrab dengan dosanya. Seperti ini adala An-nafsu Al-Ammarah bissu (jiwa yang selalu memerintahkan kepada keburukan). Dikhawatirkan kematian mendatanginya dalam kondisi berbuat maksiat, su’ul khatimah. Wal’iyadzu billah – semoga kita dijauhkan darinya..

Mana yang paling baik ? Yang pertama adalah yang ideal. Dan yang ke empat adalah yang paling buruk, maka kita harus menjauhinya. Oleh karena itu Ibnu Qudamah berkata, ”Bertaubat wajib dilakukan terus menerus, karena manusia tidak pernah terbebas dari kemaksiatan. Bila dia bisa terhindar dari kemaksiatan anggota badan, belum tentu dia lepas dari kemaksiatan hatinya; dan bila dia terhindar dari kemaksiatan hati, belum tentu dia terlepas dari kelalaian dan keterbatasan mengetahui sifat dan perbuatan Allah ta’ala.”

Sumber : Buku Energi Bertaubat - Syaikh Muhammad Husain Ya’qub terbitan Inas Media, sep 2008

Tidak ada komentar: